Kamis, 16 Juni 2016

PPT Islam Wetu Tellu

Lokal Wisdom Rahmat Fajri

TRADISI SUNATAN MENURUT MASYARAKAT RAWA BEBEK, BEKASI BARAT
Oleh: Rahmat Fajri Al-Aziz (NIM: 11140321000017)


Sunatan, adalah sebuah tradisi turun temurun sejak nabi ibrahim as. Dan prosesi sunatan dari masa ke masa, dari tiap-tiap daerah berbeda. Salah satunya adalah prosesi sunatan yang ada di daerah rawa bebek, bekasi barat. Menurut masyarakat setempat, prosesi sunatan di daerah ini sangat berbeda dengan prosesi sunatan yang ada di jawa tengah misalnya. Berdasarkan narasumber[1] yang sudah penulis wawancarai, ada 3 tahapan dalam prosesi sunatan.
a.       Pra Sunatan
Pra sunatan ini biasanya anak yang mau di sunat diajak oleh keluarganya untuk mengunjungi makam nenek moyangnya, dengan tujuan meminta doa restu terhadap roh nenek moyang yang sudah tiada. Karena keyakinan  masyarakat setempat bahwa mengunjungi makam nenek moyang dipercaya membuat si anak yang mau di sunat bisa lebih dewasa (tidak cengeng lagi).  Setelah itu, tepatnya malam hari setelah kunjungan dari makam nenek moyang, keluarga yang punya hajat sunatan mengadakan apa yang biasa disebut masyarakat setempat sebagai selametan. Slametan ini biasanya diadakan dirumah keluarga, dan dihadiri oleh tetangga-tetangga rumah, yang dipimpin oleh sesepuh setempat (kyai), dan bersama-sama membaca bacaan tahlil, yasin dan doa oleh kyai. Slametan ini bertujuan untuk mendoakan anak yang disunat agar menjadi anak yang soleh dan taat terhadap agama, bangsa, negara dan khususnya kedua orang tua. Diwaktu lain, bebarengan dengan selametan, salah seorang dari keluarga yang punya hajat sunatan, menaruh (sesajen), biasanya berisi ikan gabus[2], ayam, rokok, buah-buahan, susu, ddl. Yang disuguhkan kepada nenek moyang keluaraga.
b.      Proses Sunatan
Proses sunatan ini diawali dengan anak yang mau di sunat terlebih dahulu dimandikan kembang bekas suguhan,dengan tujuan agar si anak wangi, supaya nenek moyang mendampingi proses sunatan si anak. Setelah mandi kembang dan wangi, si anak akan dibawa ke dokter untuk di sunat. Sebelum disunat, si anak disuruh melakukan ijab qobul dengan sang dokter. Baru setelah itu, sang anak disunat dengan terlebih dahulu dokter membaca beberapa doa.
c.       Pasca Sunat
Setelah anak selesai disunat oleh dokter dan sesampainya dirumah, sang anak disuguhkan ayam bekakak.[3] Supaya sakit yang di derita sang anak ketika disunat berpindah ke ayam bekakak.




[1] Ibu Latifah (salah satu warga rawa bebek, bekasi barat)
[2] Ikan gabus adalah kesukaan nenek moyang keluarga yang punya hajat. Tiap-tiap nenek moyang keluarga, berbeda satu sama lain.
[3] Ayam kampung khas bekasi

Rabu, 15 Juni 2016

E-Book/Jurnal suku Mbojo


Berisi tentang keadaan alam, Demografi, tabel variasi jumlah anggota suku bangsa, latar belakang sejarah, mata pencaharian, pola perkampungan, dan pakaian adat.
Pendidikan karakter berbasis budaya lokal pada masyarakat muslim, keberlangsungan pendidikan, nilai-nilai budaya lokal, pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya lokal, kegiatan ekstrakurikuler di salah satu sekolah di Bima.
Penggunaan bahasa Mbojo berdasarkan usia (Pn-Mt yang usianya sebaya, Pn tua – Mt muda, Pn muda – Mt tua), Penggunaan bahasa Mbojo berdasarkan jenis kelamin (Pn laki-laki Mt laki-laki, Pn laki-laki Mt perempuan, Pn perempuan Mt laki-laki, Pn perempuan Mt perempuan), Penggunaan bahasa Mbojo berdasarkan kedudukan/jabatan (Pn atasan Mt bawahan, Pn-Mt yang kedudukannya setara, Pn bawahan Mt atasan).

E-Book/Jurnal Suku Banjar


Alasan ibu bersalin suku Banjar lebih memilih bidan kampung dari pada bidan dalam menolong persalinan, penolong persalinan, pandangan terhadap kehamilan dan persalinan, bidan kampung sebagai penolong persalinan, pandangan terhadap bidan kampung dalam menolong persalinan, antara tradisi dan relasi




Geografi, sejarah, populasi penduduk, bentuk rumah adat, kesenian khas daerah dan kekayaan alam yang terkandung.



Jejak hubungan arsitektur tradisional suku Banjar dengan suku Bakumpai, suku Bakumpai, analis kesejarahan, tabel perbandingan arsitektur suku banjar dengan suku Bakumpai, Kronologis sejarah kerajaan Banjar. 



Perbedaan kepuasan perkawinan pada wanita suku Bugis, Jawa, dan Banjar di Balikpapan, perbandingan diantara ketiga suku tersebut, hasil penelitian berdasarkan fakta dan data dan diakhiri dengan kesimpulan dari penelitian tersebut.

Kamis, 09 Juni 2016

Video Suku Mbojo



Si Bolang 19 maret 2015 - Laskar Penjaga Tradisi Suku Mbojo

Membahas tentang bahan untuk mengobati sakit karena digigit semut, untuk membuat sampo, untuk sabunan, untuk membuat rumah lengge atau rumah tempat hasil panen seperti biji-bijian, padi dan sebagainya yang dapat disimpan sampai bertahun-tahun lamanya.  Semua dibuat dari bahan-bahan yang telah tersedia di alam yang harus dipakai dengan secukupnya saja untuk menjaga kelestariannya.  Tradisi lain yaitu memelihara rambut panjang bagi anak perempuan.



POTRET DAERAH BIMA ( MBOJO ) NTB- INDONESIA BAG 01

Membahas tentang problematika kemiskinan rakyat bima, terutama mengenai sangat kurangnya sumber air bersih di daerah tersebut, juga jarak tempuh untuk mencapai sumber air yang terlampau jauh dan harus mengantri. Di samping itu, peralatan tradisional yang masih digunakan dalam mendapatkan seliter air bersih. Belum lagi terbatasnya jumlah lapangan pekerjaan yang sangat memprihatinkan sehingga menambah factor kemiskinan di daerah ini. Padahal sumber daya alam yang melimpah dan tidak dikelelola dengan baik yang menjadi salah satu factor terbelakangnnya masyarakat Bima. 



Suku Mbajo Tari Rimpu

Rimpu merupakan Salah satu budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima (Dou Mbojo). budaya ”rimpu” yang telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima itu ada. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam). Rimpu adalah cara berbusana masyarakat Bima yang menggunakan sarung khas Bima. Rimpu merupakan rangkaian pakaian yang menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung. Kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas. Rimpu ini adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan, sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi ”katente” (menggulungkan sarung di pinggang). Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Bima dikenal sebagai Tembe Nggoli (Sarung Songket). Kafa Mpida (Benang Kapas) yang dipintal sendiri melalui tenunan khas Bima yang dikenal dengan Muna. Sementara sarung songket memiliki beberapa motif yang indah. Motif-motif sarung songket tersebut meliputi nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon).

Profil Suku Mbojo



A.    Sejarah Suku Mbojo
Sumber: raried22.wordpress.com
Sumber: Mukhtar-api.blogspot.com
Berbagai versi menyebutkan asal mula kata Bima menjadi suku tersebut. Ada yang mengatakan, Bima berasal dari kata “Bismillaahirrohmaanirrohiim”.Hal ini karena mayoritas suku Bima beragama Islam. Menurut sebuah legenda, kata Bima berasal dari nama raja pertama suku tersebut, yakni Sang Bima.
Legenda tersebut tertulis dalam Kibat Bo’. Ceritanya berawal dari kedatangan seorang pengembara dari Jawa yang bernama Bima tadi.Bima merupakan seorang Pandawa Lima yang melarikan diri ke Bima pada masa pemberontakan di Majapahit.Dia melarikan diri melalui jalur selatan agar tidak diketahui oleh para pemberontak, lalu berlabuh di Pulau Satonda.
Bima menikah dengan salah seorang putri di wilayah tersebut, dan memiliki anak. Bima memiliki karakter yang kasar dan keras, tapi teguh dalam pendirian serta tidak mudah mencurigai orang lain. Lalu, para Ncuhi mengangkat Bima menjadi Raja pertama wilayah tersebut yang kemudian menjadi daerah yang bernama Bima.Sang Bima dianggap sebagai raja Bima pertamanya.
Hanya saja, Sang Bima meminta kepada para Ncuhi supaya anaknya yang diangkat sebagai raja. Sementara dia sendiri kembali lagi ke Jawa dan menyuruh dua anaknya untuk memerintah di Kerajaan Bima.Oleh karena itu, sebagian bahasa Jawa Kuno kadang-kadang masih digunakan sebagai bahasa halus di Bima.
Nama Bima sendiri sebenarnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia, sementara orang Bima sendiri menyebutnya Mbojo. Saat menggunakan bahasa Indonesia untuk merujuk “Bima”, yang digunakan tetap harus mengucapkan kata “Bima”. Tetapi bila menggunakan bahasa daerah Bima untuk merujuk ”Bima”, kata yang digunakan secara tepat adalah “Mbojo”. Mbojo ini merupakan salah satu suku Bima karena dalam suku Bima sendiri ada dua suku, yakni suku Donggo dan suku Mbojo.Suku Donggo atau orang Donggo dianggap sebagai orang pertama yang telah mendiami wilayah Bima.
Mbojo memiliki semboyan yang dikenal dengan sebutan “Maja Labo Dahu”. Setiap aturan yang berdasarkan budaya ataupun hasil karya manusia adalah tidak akan pernah lepas dari aturan tuhan, mulai dari undang-undang Negara sampai pada tataran kebudayaan seperti yang dimilki oleh Bima itu sendiri. Kata Maja berarti Malu, Labo berarti dan serta Dahu berarti Takut. Jika kita meninjau kata di atas secara semantik atau maknawi, Maja (malu) bermaknakan bahwa orang ataupun masyarakat Bima akan malu ketika melakukan sesuatu diluar daripada koridor tuhan, apakah itu kejahatan, perbuatan dosa dan lain sebagainya baik yang berhubungan dengan manusia ataupun terhadap tuhannya. Dahu (takut), hampir memilki proses interpretasi yang sama dengan kata Malu tersebut. Sama-sama takut ketika melakukan sesuatu kejahatan ataupun keburukan. Sebagai tambahan bahwa, orang Bima akan malu dan takut pulang ke kampung halaman mereka ketika mereka belum berhasil di tanah rantauan.
Dou Mbojo yang dikenal sekarang ini awalnya merupakan para pendatang yang berasal dari daerah-daerah sekitarnya seperti Makassar, Bugis, dengan mendiami daerah-daerah pesisir Bima. Mereka umumnya berbaur dengan masyarakat asli dan bahkan menikahi wanita-wanitanya.
Para pendatang ini datang pada sekitar abad XIV, baik yang datang karena faktor ekonomi seperti berdagang maupun untuk menyiarkan agama sebagai mubaliqh. Mata pencaharian mereka cukup berfariasi seperti halnya bertani, berdagang, nelayan/pelaut dan sebagian lagi sebagai pejabat dan pegawai pemerintah. Karena pada awalanya mereka adalah pendatang, pada beberapa generasi kemudian banyak juga yang merantau ke luar daerah untuk berbagai keperluan dan profesi seperti sebagai pegawai daerah, sekolah/kuliah, menjadi polisi/tentara, pedagang dan lain-lain.
Umumnya mereka memiliki sifat ulet, mudah menyesuaikan diri dengan orang lain dan bahkan kasar. Hingga kini, beberapa daerah di Bima mewarisi sifat-sifat kasar ini seperti beberapa daerah (desa) di Kecamatan Sape, Wera dan Belo. Orang Arab dan Melayu Orang Melayu umumnya berasal dari Minangkabau dan daerah-daerah lain di Sumatera, baik sebagai pedagang maupun sebagai mubaliqh. Jumlah mereka termasuk minoritas, yang pada awalnya menempati daerah Bima pesisir Teluk Bima, Kampung Melayu dan Benteng.
Terdorong oleh arus mobilitas penduduk yang cukup cepat, sekarang sebagian besar mereka telah membaur ke wilayah-wilayah pedalaman bersama masyarakat Bima lainnya. Orang Arab pun datang ke Bima sebagai pedagang dan mubaliqh. Awal kedatangan orang Arab umumnya sangat tertekan karena harus berhadapan dengan masyarakat Bima yang sudah cukup variatif. Mereka dianggap sebagai pendatang dari Arab, sebagai turunan Nabi. Akan tetapi, sekarang mereka telah diterima secara umum dan wajar, serta telah berbaur dengan masyarakat. Bahkan seiring dengan kuatnya pengaruh Islam melalui Hadirnya Kesultanan Bima, termasuk orang Melayu, sering dianggap istimewa karena biasanya pada masa Kesultanan Bima mereka diangkat sebagai Da’I dan pejabat hadat di seluruh pelosok tanah Bima.
Pendatang Lainnya Para pendatang ini datang dengan latar belakang yang beragam, dengan menduduki berbagai profesi baik sebagai pejabat pemerintah, polisi/tentara, pedagang/pengusaha. Mereka datang dari Jawa, Madura, Ambon, Flores, Timor-Timur, Banjar, Bugis, Bali, Lombok yang kemudian membaur dan menikah dengan masyarakat Bima asli maupun dengan para pendatang lain.
B.     Upacara dan Tradisi Suku Mbojo
Sumber: Sangajigroup.wordpress.com

Secara umum kebudayaan keluarga suku Mbojo yang tinggal di mataram tetap dipertahankan seperti Wa,a co’i, kapanca, nuzu bulan, akikah, khitan, compo sampari, compo baju, sunatan, do’a rasu, silaturrahmi dan mbolo weki.
Makanan yang dihidangkan dalam acara sunatan dan resepsi pernikahan dikombinasi antara makan khas lombok dan khas bima seperti gule daging, sate, acar, palumara (singang), urap, dan saronco hi’i. Sedangkan budaya seperti doa rasu, silaturahmi dan nuzul bulan tetap mempertahankan makanan khas bima.
Suku Mbojo berbagai macam upacara adat dan tradisi yang dilakukan pada saat hari – hari tertentu, antara lain :
1.      Wa’a coi
Wa’a coi maksudnya adalah upacara menghantar mahar atau mas kawin, dari keluarga pria kepada keluarga sang gadis. Dengan adanya uacara ini, berarti beberapa hari lagi kedua remaja tadi akan segera dinikahkan. Banyaknya barang dan besarnya nilai mahar, tergantung hasil mufakat antara kedua orang tua remaja tersebut. Pada umumnya mahar berupa rumah, perabotan rumah tangga, perlengkapan tidur dan sebagainya. Tapi semuanya itu harus dijelaskan berapa nilai nominalnya.
Upacara mengantar mahar ini biasanya dihadiri dan disaksikan oleh seluruh anggota masyarakat di sekitarnya. Digelar pula arak-arakan yang meriah dari rumah orang tua sang pria menuju rumah orang tua perempuan. Semua perlengkapan mahar dan kebutuhan lain untuk upacara pernikahan seperti beras, kayu api, hewan ternak, jajan dan sebagainya ikut dibawa.
2.      Kapanca
Upacara  Peta Kapanca adalah salah satu bagian dari prosesi perkawinan Adat Bima. Biasanya upacara ini dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan Akad Nikah dan Resepsi perkawinan. Peta Kapanca adalah melumatkan Daun pacar(Inai) pada kuku calon pengantin wanita yang dilakukan secara bergantian oleh ibu-ibu dan tamu undangan yang semuanya adalah kaum wanita.
Makna dari upacara Kapanca ini merupakan peringatan bagi calon pengantin wanita bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi akan melakukan tugas dan fungsi sebagai ibu rumah tangga atau istri. Disamping itu, Kapanca dimaksudkan untuk memberi contoh kepada para gadis lainnya agar mengikuti jejak calon penganten wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ratu yang akan mengakhiri masa lajangnya sehingga mereka dapat mengambil hikmah.
3.      Nuzul Bulan
Nuzul Bulan adalah suatu acara yang dilaksanakan pada usia kehamilan 7 bulan yang bertujuan untuk keselamatan dengan harapan bayi yang dikandung lahir sehat. Prosesi acara ini melibatkan sesepuh yang telah lama tinggal di mataram. Makanan yang dihidangkan dalam acara ini adalah pisang ambon, oha mina serta karaba, pangaha bunga, bolu dan mangonco (rujak). Rujak yang dibuat oleh pihak acara diberikan kepada para undangan. Menurut kepercayaan masyarakat suku Mbojo, jika rujak yang diberikan rasanya pedas maka anak yang dikandung adalah anak laki-laki. Sedangka jika rujak yang diberikan rasanya manis maka anak yang dikandung adalah anak perempuan.
4.      Khitan
Upacara khitanan dalam adat Mbojo disebut upacara suna ro ndoso (Suna = sunat. Ndoso = memotong atau meratakan gigi secara simbolis sebelum sunat). Biasanya upacara suna ro ndoso dilakukan ketika anak berumur lima sampai tujuh tahun. Bagi anak perempuan antara dua sampai dengan empat tahun. Upacara khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi puteri disebut”sa ra so”. Sebelum di khitan terlebih dahulu akan di lakukan compo sampari dan compo baju pada anak laki – laki dan perempuan. Dalam acara khitan serta compo sampari dan compo baju terdapat makanan yang sering disajikan seperti : uta janga puru (ayam bakar), sia dungga, uta mbeca ro,o parongge,oha mina, kalo.
5.      Compo sampari
Upacara compo Sampari atau pemasangan keris( memakaikan keris) kepada anak laki – laki yang akan di Suna Ro Ndoso. Dilakukan oleh seorang tokoh adat, diawali dengan pembacaan do’a disusul dengan membaca shalawat Nabi. Upacara ini digelar sebagai peringatan bahwa  sebagai anak laki – laki harus memiliki kekuatan dan keberanian yang dilambangkan dengan sampari (keris).
6.      Compo baju
Upacara compo baju yaitu upacara pemasangan baju kepada anak perempuan yang akan di saraso ro ndoso. Baju yang akan dipasang sebanyak 7 lembar baju poro(Baju pendek) yang dilakukan secara bergilir oleh para tokoh adat dari kaum ibu. Makna compo baju adalah merupakan peringatan bagi anak, kalau sudah di saraso berarti sudah dewasa. Sebab itu harus menutup aurat dengan rapi. Tujuh lembar baju  adalah tujuh simbol tahapan kehidupan yang dijalani manusia yaitu masa dalam kandungan, masa bayi, masa kanak – kanak, masa dewasa, masa tua, alam kubur dan alam baqa(akherat).
7.      Doa rasu
Doa rasu adalah suatu kebiasaan berdoa pada hari jum’at yang dilaksanakan pada pagi hari, dimana maksud acara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan sebagai tola bala agar keluarga tersebut terhindar dari bencana dan mala petaka. Biasanya anak-anak dikumpulkan setelah sholat subuh atau sebelum matahari terbit dan diberikan makan berupa karedo (bubur) yang diletakan di atas nare yang dialasi daun pisang. Tempat makan diadakan doa rasu tergantung pada tujuan yang membuat acara seperti di depan pintu bertujuan untuk memurahkan rejeki.
8.      Silaturahmi
Silaturrahmi adalah suatu kebiasaan suku Mbojo mengunjungi keluarga atau kerabat untuk mempererat tali persaudaraan. Bagi masyarakat suku Mbojo mengadakan silaturahmi berupa acara arisan, dimana masyarakat suku Mbojo menyempatkan diri berkumpul ditengah kesibukan mereka masing-masing dan dengan arisan itu mereka saling mengenal sehingga ikatan persaudaraan mereka lebih erat. Pada acara ini makanan yang dihidangkan adalah makanan khas bima yang dibuat oleh tuan rumah.
9.      Mbolo weki
Mbolo weki adalah upacara musyawarah dan mufakat seluruh keluarga maupun handai taulan dalam masyarakat untuk merundingkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan hajatan/rencana perkawinan yang akan dilaksanakan. Dalam tradisi khitanan juga demikian. Hal-hal yang dimufakatkan dalam acara mbolo weki meliputi penentuan hari baik, bulan baik untuk melaksanakan hajatan tersebut serta pembagian tugas kepada keluarga dan handai taulan. Bila ada hajatan pernikahan, masyarakat dengan sendirinya bergotong royong membantu keluarga melaksanakan hajatan. Bantuan berupa uang, hewan ternak, padi/beras dan lainnya. Dalam acara mbolo weki ini biasanya di sajikan beberapa macam jajanan seperti bolu, dadar, pisang, binka dolu.
C.    Kepercayaan Masyarakat Suku Mbojo
Beberapa kepercayaan-kepercayaan rakyat yang juga masih melekat di jiwa rakyat Bima/Dompu yang masih dipercayai kekuatan mistisnya dan dipertahankan sekarang yaitu antara lain:
1.      Adanya larangan bagi istri ataupun anak duduk di depan pintu atau tangga (bagi yang  berumah panggung)
Pada saat suami atau orang tua dari anak-anak itu pergi bekerja atau mencari nafkah untuk keluarga. Kepercayaan atau tradisi ini masih melekat dan menjadi tantangan bagi masyarakat Bima dan dompu pada umumnya yang ada di pedalaman dan masih mempercayai akan kekuatan hal ini.

Hal ini dilakukan dan masih menjadi kepercayaan rakyat setempat karena dipercayai rezeki atau suatu keberuntungan yang akan dicapai akan berkurang atau terhalang dan mungkin sama sekali tidak bisa didapatkan oleh sang suami. Hal ini harus dipatuhi dan dijalankan oleh seorang istri ataupun anaknya yang berada di rumah baik pada pagi hari, siang hari, maupun malam hari.
Dan tanggapan dari masyarakat sendiripun membenarkan dan mempercayai akan adanya hal itu, karena bisa mengurangi dan menghalangi rezeki yang akan masuk ke rumah.


2. Tradisi atau kepercayaan membakar kemenyan (dupah) untuk roh/arwah nenek moyang.
Kepercayaan ini biasanya dilakukan oleh para petani menjelang musim tanam dan panen padi atau kedelai yang diletakkan dan dilakukan di sudut sawah/ladang pada waktu sore hari. Dengan alasan agar tanaman yang ditanam nantinya bisa terbebas dari hama penyakit, dan serangan cuaca yang tidak menentu sehingga hasil panen nantinya bisa berlimpah ruah dan hasilnya banyak.
Kepercayaan membakar dupah ini banyak dilakukan oleh para petani di daerah-daerah pinngiran dan pelosok Bima dan Dompu. Tujuannya juga sama seperti apa yang Sudah dipaparka di awal tadi. Tanggapan dari masyarakat sekitar sendiripun mempercayai hal tersebut karena memang sudah terjadi dan bisa dirasakan sendiri hasilnya.
3. Kepercayaan Toho ra Dore (pemujaan/penyerahan sesajian)
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas tadi bahwa kepercayaan masyarakat sekarang tidak berbeda jauh dengan masyarakat yang dahulu. Dimana rakyat melakukan pemujaan-pemujaan kepada roh-roh nenek moyang yang bisa dipercayai dapat membawa keberkahan.
Kepercayaan Toho ra Dore ini dilakukan untuk meminta bantuan kepada roh-roh dalam rangka meminta kekayaan/keberlimpahan harta (Bima: raho ntau ra wara) dan juga untuk meminta kesembuhan dari penyakit yang ada di tubuh. Hal ini terus dilakukan dan dipercayai dapat merubah kehidupan bagi yang melaksanakannya, karena konon pada zaman dahulu rakyat Bima/Dompu sering melakukannya dan selalu mendapatkan dari apa yang diminta, meskipun sekarang juga masyarakat bima sebagian telah meninggalkan namun masih ada juga yang mempercayainya.
Penyerahan sesajian ini tidak terbatas waktunya dan bisa dilakukan pada saat seseorang butuh baik pada pagi hari maupun malam hari, tetapi lebih diutamakan pada hari jumat.

4. Kepercayaan membakar sampah di depan rumah atau menabur garam dan beras kuning di depan rumah.
Kepercayaan membakar sampah ini diyakini oleh masyarakat Bima/Dompu bisa menghalangi masuknya kekuatan gaib atau kekuatan jahat yang akan masuk ke rumah orang tersebut. Kegiatan/kepercayaan ini dilakukan setiap kamis sore/malam jumat di depan rumah. Kepercayaan ini masih seutuhnya diyakini oleh masyarakat sekitar yang meyakini akan benarnya hal itu.
Menabur garam atau beras kuning di depan rumah dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari datangnya fitnah dan bala bahaya bagi penghuni rumah. Hal ini dilakukan setiap kali ada orang yang datang/masuk ke rumah tersebut yang diyakini memiliki sifat buruk atau niat jahat terhadap penghuni rumah. Penaburan ini sendiri dilakukan sesaat setelah orang yang diyakini membawa fitnah tadi pergi dan meninggalkan rumah tersebut.
Masyarakat Bima/Dompu masih memegang dan melakukan kepercayaan tersebut, karena memang memiliki dampak yang diakui bisa terhindar dari kekuatan gaib dan datangnya fitnah yang akan dating dan masuk ke rumah itu.

Profil Suku Banjar



SUKU BANJAR
Oleh:
Qonita
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016

Asal Usul Suku Banjar
Suku Bangsa Banjar adalah suku bangsa yang menempati sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan sebagian Kalimantan Tengah terutama kawasan dataran dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut. Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjaryaitu wilayah inti dari Kesultanan Banjar meliputi DAS Barito bagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS Martapura dan DAS Tabanio. Kesultanan Banjar sebelumnya meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, kemudian terpecah disebelah barat menjadi kerajaan Kotawaringin yang dipimpin Pangeran Dipati Anta Kasuma dan di sebelah timur menjadi kerajaan Tanah Bumbu yang dipimpin Pangeran Dipati Tuha yang berkembang menjadi beberapa daerah: Sabamban, Pegatan, Koensan, Poelau Laoet, Batoe Litjin, Cangtoeng, Bangkalaan, Sampanahan, Manoenggoel, dan Tjingal. Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur merupakan tanah rantau primer, selanjutnya dengan budaya madam, orang Banjar merantau hingga ke luar pulau. Menurut Alfani Daud (1997), suku bangsa Banjar adalah suku asli sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, kecuali di Kabupaten Kota Baru.[1]
Suku Banjar merupakan salah satu suku yang mendiami tanah Kalimantan terutama di daerah Kalimantan Selatan. Masyarakat dari suku Banjar ini lebih dikenal dengan istilah Urang Banjar. Ideham (2003:72) mengemukakan bahwa Urang Banjar pada awalnya merupakan suku yang mendiami pesisir pantai di Kalimantan Selatan, Timur, dan Tengah. Pada masa penjajahan Belanda, masyarakat setempat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yakni yang Islam dan non Islam. Kelompok Islam diidentikkan sebagai suku Melayu dan yang non islam adalah kelompok suku Dayak. Karena suku Banjar merupakan salah satu suku dari rumpun Melayu, mereka dimasukkan dalam kelompok Islam. Urang Banjar merupakan salah satu rumpun dari suku Melayu memiliki kebudayaan tradisional yang terintegrasi dengan agama Islam. Pelaksanaan ritual keagamaan dan tradisi dalam masyarakat dilakukan juga sebagai upaya untuk menanamkan nilai keagamaan sejak dini kepada generasi-generasi penerus dalam suku Banjar.[2]
Suku Banjar ialah penduduk asli yang mendiami sebahagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Mereka memiliki kesamaan dengan penduduk Pulau Sumatera dan daerah sekitarnya. Mereka berpindah ke kawasan ini lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama, dan setelah bercampur dengan penduduk asal setempat yang biasanya dinamakan secara umum sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang datang kemudian, terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, iaitu Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu dan Banjar Kuala. Orang Pahuluan pada dasarnya ialah penduduk yang mendiami lembah sungai yang berhulu di Pergunungan Meratus; orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara; sedangkan orang Banjar Kuala mendiami daerah sekitar Banjarmasin dan Martapura.
Menurut Hikayat Banjar, dahulu kala penduduk pribumi Kalimantan Selatan belum terikat dengan satu kekuatan politik dan masing-masing puak masih menyebut dirinya berdasarkan asal Daerah Aliran Sungai misalnya orang batang Alai, orang batang Amandit, orang batang Tabalong, orang batang Balangan, orang batang Labuan Amas, dan sebagainya. Sebuah entitas politik yang bernama Negara Dipa terbentuk yang mempersatukan puak-puak yang mendiami semua daerah aliran sungai tersebut. Negara Dipa kemudian digantikan oleh Negara Daha. Semua penduduk Kalsel saat itu merupakan warga Kerajaan Negara Daha, sampai ketika seorang Pangeran dari Negara Daha mendirikan sebuah kerajaan di muara Sungai Barito yaitu Kesultanan Banjar. Dari sanalah nama Banjar berasal, yaitu dari nama Kampung Banjar yang terletak di muara Sungai Kuin, di tepi kanan sungai Barito.
Mitologi suku Dayak Meratus (Suku Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Si Ayuh/Datung Ayuh/Dayuhan/Sandayuhan yang menurunkan suku Bukit dan Bambang Siwara/Bambang Basiwara yang menurunkan suku Banjar.
Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Maratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Meratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero pegunungan Meratus yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal-usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan.
Suku bangsa Banjar terbentuk dari suku-suku Bukit, Maanyan, Lawangan dan Ngaju yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang berkembang sejak zaman Sriwijaya dan kebudayaan Jawa pada zaman Majapahit, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar. Suku bangsa Banjar terbagi menjadi tiga subsuku, yaitu :
1.      (Banjar) Pahuluan
Banjar Pahuluan pada asasnya adalah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus.
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk pedalaman, yaitu Orang Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama.
Untuk kepentingan keamanan, atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri. Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukimanbubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat orang Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur orang Bukit ikut membentuknya.
2.      (Banjar) Batang Banyu
Banjar Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara. Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbentuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Sebagai warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah. Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari Orang Maanyan (dan Orang Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Banjar Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asalPahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.
3.      Banjar (Kuala)
Sedangkan orang Banjar Kuala mendiami sekitar Banjarmasin dan Martapura.
Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang terbagi ke dalam dua dialek besar yaitu Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun 1860) adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di Martapura), nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan orang Ngaju, yang seperti halnya dengan masyarakat Bukit dan masyarakat Maanyan serta Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar yang pada asasnya ialah bahasa Melayu. Nama Banjar diperoleh kerana mereka sebelum dijajah pada tahun 1860 adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau singkatnya Banjar, sesuai dengan nama ibu kotanya. Ketika ibu kota dipindahkan arah ke pedalaman, terakhirnya di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku dan tidak berubah lagi. Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin dan terbentuknya Kesultanan Banjar, sebahagian warga Batang Banyu dipindahkan ke pusat kekuasaan yang baru ini, dan dengan demikian terbentuklah subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju, dan seperti masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Manyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar setelah mereka memeluk agama Islam, atau berimigrasi ke tempat-tempat lain, khususnya ke sebelah barat sungai Barito. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibu kota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut diri mereka sebagai orang asal kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar. Setelah kesultanan Banjar dibubarkan oleh penjajah Belanda, ramai orang Banjar yang bermigrasi ke luar daerah. Salah satunya adalah ke Sapat yang diperintah oleh Kerajaan Indragiri yang sekarang ini dinamakan Kabupaten Indragiri Hilir. Sebahagian daripada mereka ada pula yang berpindah ke Malaysia seperti ke negeri Selangor, Kedah, Perak dan lain-lain.[3]

Budaya Jujuran Dalam Perkawinan Adat Banjar
Persepsi pria suku Banjar terhadap budaya jujuran dalam perkawinan adat adalah merupakan kewajiban pria suku Banjar yang harus dijalankan dalam perkawinan, merupakan budaya yang sudah turun temurun yang dijalankan oleh masyarakat suku Banjar dan merupakan kebanggaan apabila dijalankan dalam perkawinannya, sebagai bentuk penghargaan terhadap wanita yang akan dikawini, merupakan budaya yang sangat memberatkan serta menyulitkan pria suku Banjar dalam melaksanakan perkawinan. Kedudukan pria suku Banjar dalam budaya jujuran adalah pria memiliki kedudukan yang tinggi karena pria yang memberikan jujuran kepada wanita, selain itu adanya pandangan bahwa kedudukan pria dalam budaya jujuran merupakan pihak yang ditekan oleh pihak wanita karena yang menentukan besarnya jumlah jujuran yang diminta.[4]

Idwar Saleh (1991:92) mengemukakan bahwa masyarakat Banjar, sesuai dengan ajaran agama Islam diijinkan untuk menikah hingga empat kali tetapi pelaku poligami ini haruslah bisa bersikap adil antara istri yang satu dengan istri berikutnya. Salah satu bentuk ‘adil’ menurut adat istiadat Banjar adalah bahwa seorang laki-laki baru layak menikah lagi setelah ia mampu memberikan harta 56 kekayaan kepada istri terdahulunya. Oleh sebab itulah laki-laki yang berani melakukan poligami biasanya adalah mereka yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa dalam tindakan poligami ini dilakukan oleh mereka yang tidak mapan secara ekonomi dan pada umumnya tidak meminta ijin dari istrinya yang pertama.

Sistem Kekerabatan
Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga yang berpusat dari ulun sebagai penyebutnya. Bagi ulun juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara berikutnya disebut Tuha, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman muda/kecil) dan Makacil (bibi muda/kecil), sedangkan termuda disebut Busu. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.
Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri.

Kebudayaan
Kehidupan orang Banjar terutama kelompok Banjar Kuala dan Batang Banyu lekat dengan budaya sungai. Sebagai sarana transportasi, orang Banjar mengembangkan beragam jukung (perahu) sesuai dengan fungsinya yakni Jukung Pahumaan, Jukung Paiwakan, Jukung Paramuan, Jukung Palambakan, Jukung Pambarasan, Jukung Gumbili, Jukung Pamasiran, Jukung Beca Banyu, Jukung Getek, Jukung Palanjaan, Jukung Rombong, Jukung/Perahu Tambangan, Jukung Undaan, Jukung Tiung dan lain-lain. Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang banyak memiliki sungai dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh orang Banjar, sehingga salah satu keahlian orang Banjar adalah mengolah lahan pasang surut menjadi kawasan budi daya pertanian dan permukiman. Sistem irigasi khas orang Banjar yang dikembangkan masyarakat Banjar mengenal tiga macam kanal. Pertama, Anjir (ada juga yang menyebutnya Antasan) yakni semacam saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir berfungsi untuk kepentingan umum dengan titik berat sebagai sistem irigasi pertanian dan sarana transportasi. Kedua, Handil (ada juga yang menyebut Tatah) yakni semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir. Handil dibuat untuk menyalurkan air ke lahan pertanian daerah daratan. Handil ukurannya lebih kecil dari Anjir dan merupakan milik kelompok atau bubuhan tertentu. Ketiga, Saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan merupakan milik keluarga atau pribadi.

Rumah Banjar
Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah adat suku Banjar.

Tradisi lisan
Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah (ﻤﺪﺡ) yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa. Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.

Tarian
Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan.[5]


[1] Suku Banjar, diakses dari https://www.scribd.com/doc/31527356/SUKU-BANJAR pada tanggal 09 Juni 2016 pukul 20.24 WIB.
[2] BAB II Deskripsi Objek Penelitian, diakses dari  http://e-journal.uajy.ac.id/3209/3/2KOM03477.pdf pada tanggal 09 Juni 2016 pukul 20.37 WIB.
[3] Rahim Aman, Zulkifley Hamid, Shahidi Abd, Profil pemikiran Banjar: Satu kajian perbandingan antara suku Banjar di Malaysia dan di Indonesia, diakses dari http://www.ukm.my/ geografia/images/upload/2c. geografia-nov%202012-si-rahim%20aman-edkat2.pdf pada tanggal 08 Juni 2016 jam 20.23 WIB.
[4] Dina Aprilia, Budaya Jujuran dalam Masyarakat Banjar http://eprints.umm.ac.id/6451/1/BUDAYA_JUJURAN_DALAM_PERKAWINANADAT_BANJAR.pdf pada tanggal 09 Juni 2016 pukul 20.40 WIB.
[5] Kearifan Lokal Masyarakat Banjar http://eprints.unlam.ac.id/224/1/11%20Kearifan%20Religi%20Masy%20Banjar%20Pahuluan-Publika.pdf pada tanggal 09 Juni 2016 pukul 20.40 WIB.