Kamis, 09 Juni 2016

Local Wisdom Noor Kholis Swandy



LELUHUR SUKU MADURA DAN MITOLOGINYA
Oleh: Noor Kholis Swandy

Dalam masyarakat Madura, Para Leluhur atau Nenek Moyang dari keturunan keluarga mereka disebut “Bujuk”. Tidak hanya itu, bujuk di Madura juga diyakini sebagai tokoh agama yang menyebarkan agama Islam sehingga tidak heran apabila banyak diantaranya yang dikeramatkan. Nama bujuk biasanya diambil dari nama tempat kyai tersebut berasal atau tinggal, nama bujuk juga ada yang diambil dari kebiasaan kyai saat hidup, atau dari hal-hal mistis yang berkaitan dengannya semasa hidup.
Usia makam tersebut dari puluhan hingga ratusan tahun. Berdasarkan silsilahnya. Sebagian besar makam tersebut adalah keturunan bangsa Arab yang sengaja datang ke Madura untuk menyebarkan Islam. Sebagaian mereka juga masih mempunyai hubungan darah dengan Wali Songo. Sebagian lagi merupakan silsilah keluarga kerajaan Jawa dan Madura yang juga dianggap berperan dalam menyebar luaskan Islam di Madura.

a.    Mbah Bujuk Lattong
Dahulu kala di Batuampar, Pamekasan, yang sebagai basis penyebaran islam madura tengah pernah tinggal Syekh Abdul Manan bin Sayyid Husein yang masih cicit Sunan Ampel.  Syekh Abdul Manan banyak dikenal dengan legenda Bujuk Kasambi.
Begini ceritanya. Bapaknya, Sayyid Husein merupakan tokoh penting di Bangkalan karena mempunyai banyak pengikut. Hingga kemudian, Sayyid Husein ditumpas habis oleh raja karena difitnah hendak melakukan makar. Dalam keadaan itu, Syekh Abdul Manan mengasingkan diri di tengah perbukitan Batuampar. Di hutan tersebut, Syekh Manan bertapa di bawah pohon kasambi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nggak tanggung-tanggung, pertapaan itu dilakukan selama 41 tahun. Dia memulai pertapaan itu saat berumur 21 tahun.
Hingga akhirnya dia ditemukan seorang penduduk desa yang sedang mencari kayu dihutan. Setelah dibawa kerumahnya, timbullah jalinan kekeluargaan hingga terjadi kesepakan dengan keluarga tersebut. Syekh Manan lalu dijodohkan dan memilih sendiri perjodohan itu dengan seorang putri sulungnya yang menderita penyakit kulit.
Namanya orang yang mempunyai karomah, di hari ke 41 pernikahan mereka, penyakit kulit si istri sembuh seketika. Karena karomah tersebut, Syekh Manan lalu banyak dikenal sebagai Bujuk Kasambi di darah tersebut.
Dilanjut dengan anaknya, Bujuk Tumpeng
Syekh Manan dikarunia dua putra dari pernikahan tersebut. Yakni, Taqihul Muqadam dan Basyaniah. Rupanya, kegemaran bertapa Syekh Manan atau Bujuk Kasambi tersebut menular kepada putra keduanya, Syekh Basyaniah. Dia juga selalu menutupi karomahnya dengan menjauhi pergaulan dengan orang banyak.
Dalam melakoni pertapaan tersebut, Syekh Basyaniah memilih suatu bukit yang terkenal dengan nama Gunung Tumpeng yang terletak kurang lebih 500 m arah barat daya dari Desa Batuampar. Karena banyaknya waktu yang dihabiskan Syekh Basyaniah di gunung tumpeng itu, maka dia juga dikenal dengan Bujuk Tumpeng. Banyak orang yang disampaikan dari mulut ke mulut meyakini syekh basyaniah mempunyai banyak karomah seperti bapaknya. Sayang, tidak banyak yang bisa diceritakan karena sedikitnya sumber yang menyebut.
Berputra Tunggal Bergelar Syekh Bujuk Latong
Syekh Basyaniah selama hidupnya hanya meninggalkan seorang putra yang bernama Syekh Syamsudin. Dia dikenal dengan sebutan Bujuk Latong. Sifatnya juga suka bertapa sama halnya dengan bapak dan kakeknya. Bahkan, dia selalu berpindah-pindah dalam melakukan pertapaannya. Misal, salah satu tempat pertapaanya yang ditemukan didekat kampung Aeng Nyono’. Wilayah tempat tersebut ada ditengah hutan yang lebat. Karena seringnya tempat tersebut dipergunakan sebagai lokasi bertapa, oleh penduduk setempat dinamakan Kampung Pertapaan.
Begitu juga bukit yang ada dikampung Aeng Nyono’ yang menjadi tempat bertapanya Syekh Syamsudin. Disana terdapat sebuah kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada manusia sampai sekarang. Tepat di sebelah barat tempat beliau bertapa terdapat sumber mata air yang mengalir ke atas Bukit Pertapaan. Konon, Syekh Syamsudin mencelupkan tongkatnya sampai akhirnya mengalir ke atas bukit hingga kini. Karena itu, kampung itu dinamakan Kampung Aeng Nyono’ yang berarti air yang mengalir ke atas. Dan konon dengan air inilah beliau berwudhu dan bersuci.
Sebutan latong itu muncul karena dari dadanya keluar sinar. Konon, jika dilihat oleh orang yang berdosa, maka orang tersebut akan pingsan atau tewas. Kisah lain menceritakan Sarabe yang preman ingin menghabisinya. Banyak sudah korban penduduk desa yang dibunuh. Tapi, ketika Sarabe akan membunuh Syekh Syamsudin dengan sebilah senjata, tiba-tiba senjata itu lenyap dan tinggal warangkannya. Sarabe lalu memelas dan memohon agar senjatanya dikembalikan. Syekh Syamsudin menunjuk letak senjata tersebut berada dalam Latong (kotoran sapi).
Maka, karena kerendahan hatinya, Syekh Syamsudin menutupi jati dirinya. Dia menutupi karomahnya itu dengan cara mengoleskan latong disekitar dadanya. Dia wafat dengan meninggalkan tiga orang putra dan dikebumikan di Batuampar, madura.

b.   Bujuk Tamoni
Kekuatan mistik di Asta Paregi atau yang dikenal Bujuk Tamoni Desa\/Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep, Madura sulit diterjemahkan dengan logika. Asta (pemakaman) para sesepuh desa setempat itu ramai dikunjungi pasangan suami istri (Pasutri) yang kesulitan untuk mempunyai anak (keturunan), terutama pada hari-hari libur.
Mereka meyakini jika berkunjung dan bernadar (niat) jika mempunyai anak akan membuang ari-ari bayi (Tamoni), maka pasutri yang selama ini kesulitan mempunyai anak akan cepat mendapat keturunan, atau dikabulkan atas izin yang Maha Kuasa. Ari-ari dari bayi yang dilahirkan itu layaknya tumbal yang harus dipersembahkan pada Bujuk Tamoni.
Tidak sulit dalam proses persembahkan tumbal ari-ari bayi tersebut. Mereka hanya membuang ari-ari yang sudah terbungkus dengan plastik atau dengan tempat lain yang dinilai aman disebelah barat bangunan berukuran 6x4 meter. Dalam bangunan itu merupakan makam sesepuh desa yang meninggal ratusan tahun lalu.
Tak ayal, jika gundukan ari-ari bayi (Tamoni) mencapai ketinggian 4 meter di atas lahan 10x5 meter milik Ny Fatimah (67), warga setempat. Bahkan, sejumlah pohon asam besar yang tumbuh mengelilingi Bujuk Tamoni itu juga banyak tergantung bungkusan plastik dan wadah lain yang di dalamnya berisi ari-ari bayi. Seakan menjadi pemandangan yang mearik bagi penduduk setempat serta pengguna jalan Sumenep menuju Kecamatan Batuan.
Kemasyhuran Bujuk Tamoni tidak hanya dikalangan warga Madura, melainkan terdengar hingga Kabupaten Banyuwangi, Jember, serta kota-kota lain di Jawa Timur khususnya tapal kuda. Para pasutri banyak berdatangan dengan maksud cepat dikarunia anak dan akan mempersembahkan ari-arinya pada Bujuk Tamoni di Sumenep.
Salah seorang keturunan Bujuk Tamoni, Desa\/Batuan, Kabupaten Sumenep, Ny Fatimah (67) mengatakan, setiap pasutri yang datang permintaannya hanya satu yakni ingin cepat mempunyai keturunan. "Mereka yang sudah berniat untuk mempersembahkan ari-ari bayinya maka dengan kehendak Yang Maha Kuasa cepat dikarunia anak sesuai dengan keinginannya," terang Ny Fatimah.
Selain mempersembahkan ari-ari bayi, mereka juga membawa jajan pasar warna tujuh dan membawa beras, gula kopi. Ke-7 jajan pasar itu ikut dipersembahkan pada Bujuk Tamoni sedangkan beras dan lainnya diberikan pada keturunan Bujuk Tamoni yang setiap saat setia menunggu para pengunjung di lokasi pembuangan ari-ari bayi

c.    Mitos Tabur Uang Di Sumur Bujuk Sara
Didesa Martajasah Bangkalan dikenal memiliki asta Bujuk Sara atau yang dikenal dengan nama Sayyid Syaifuddin. Menariknya, di sekitar asta tersebut terdapat mitos yang diyakini peziarah. Di lokasi itu terdapat sumur tua berukuran kecil. Konon ceritanya jika peziarah menabur uang ke sumur itu, maka setiap keinginannya akan menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar